Malam 1 Suro: Antara Momentum Hijrah dan Mitos Mistik Orang Jawa
Tanggal 1 Muharram atau 1 Suro dalam
tanggalan jawa diambil dari peristiwa hijrahnya kaum muslimin dari Kota
Makkah ke Madinah. Sejak itulah agama Islam mengalami perkembangan amat
pesat. Dalam kurun waktu yang relatif singkat yaitu kurang lebih 8 tahun
Islam mulai bergema ke seluruh penjuru dunia, berkembang meluas ke
seluruh pelosok permukaan bumi.
Momentum peristiwa hijrah dijadikan
titik awal perkembangan Islam dan pembentukan masyarakat madani yang
dibangun oleh Rasulullah SAW. Dan karena itu tidak mengherankan jika
Khalifah Umar bin Khotob menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal
perhitungan tahun baru Islam, yang kemudian dikenal dengan Tahun Baru
Hijriah.
Disisi lain bulan Suro,
terutama pada malam tanggal 1 Suro di beberapa wilayah Indonesia memiliki aura tersendiri, malam 1 Suro dianggap malam yang bernuansa mistis.
terutama pada malam tanggal 1 Suro di beberapa wilayah Indonesia memiliki aura tersendiri, malam 1 Suro dianggap malam yang bernuansa mistis.
Oleh karena itu sebagian masyarakat yang
mempercayai kemistisan tersebut melakukan berbagai ritual seperti
memandikan benda pusaka seperti keris dan lain-lain, dilarang keras
melaksanakan pesta apalagi pernikahan, melaksanakan tirakat dengan
begadang semalam suntuk, melakukan kirab malam 1 Suro, kirab Tumuruning
Mahesa Suro, ritual Batara Kathong Ponorogo, ritual Telaga Ngebel
Ponorogo, dan ritual lainnya.
Sebagian orang memahami bulan Suro
sebagai bulan penuh kesialan, itulah yang menyebabkan pada bulan
tersebut dilarang melakukan pesta khususnya pernikahan.
Hal ini adalah keyakinan yang tidak
memiliki dasar karena bulan Suro atau bulan Muharram justru memiliki
makna sebaliknya. Bulan Muharram memiliki arti kegembiraan, dimana hal
tersebut diartikan bahwa pada dasarnya bulan Muharram atau Suro adalah
sebuah bulan yang mendatangkan kegembiraan bagi seluruh umat Islam.
Dalam persepsi Islam semua hari adalah
baik dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada
manusia. Jika muncul mitos menyesatkan tentang bulan Suro, hal ini
tidak lepas dari latar belakang sejarah jaman kerajaan tempo dulu. Pada
bulan Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual
membersihkan pusaka keraton.
Ritual membersihkan pusaka keraton pada
jaman dahulu menjadi sebuah tradisi yang menyenangkan bagi masrakyat
yang masih haus akan hiburan. Sehingga dengan kekuatan kharisma keraton
dibuatlah stigma tentang angkernya bulan Suro.
Sehingga jika di bulan Suro rakyat
mengadakan hajatan khususnya pesta pernikahan, bisa mengakibatkan
sepinya ritual yang diadakan keraton. Dampaknya akan mengurangi
legitimasi dan kewibawaan keraton, yang pada saat itu merupakan sumber
segala hukum.
Mitos tentang keangkeran bulan Suro
ini demikian kuat dihembuskan, agar rakyat percaya dan tidak mengadakan
kegiatan yang bisa menganggu acara keraton. Sayangnya mitos tersebut
sampai saat ini masih demikian kuat dipegang oleh sebagian orang.
Sehingga ada sekelompok orang yang pada bulan Suro tidak berani
mengadakan sebuah aktivitas karena dianggap bisa membawa sial.
Biasanya tanggal 1 Suro adalah saat
bulan purnama, dan bulan purnama penuh dengan nuansa misteri, mungkin
ini juga merupakan hal yang dijadikan dasar kenapa malam 1 Suro memiliki
kekuatan mistis.
Keyakinan seperti seperti itu
merupakan keyakinan tanpa dasar dan hanya dilandasi pada kata orang tua
dulu dan perintah leluhur tanpa bisa menunjukkan dalil secara agama
maupun logika.
Bagi umat Islam seharusnya bulan Suro
itu sama saja dengan hari-hari lainnya, tidak ada pantangan untuk
melaksanakan perayaan apakah itu khitanan atau pernikahan.
Kita hendaknya meyakini kuasa Allah
yang telah menjadikan semua hari, tanggal, bulan dan tahun adalah baik.
Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita berbuat dan bertindak, apakah
sudah sesuai dengan ajaran agama, selama kita melakukan hal kebaikan
maka Insya Allah kapanpun hal itu dilakukan maka akan memberi manfaat
yang baik pula. [infonews]
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi
tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang
menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan
akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.





