Kamis, 21 November 2013

MISTIK JAWA

Malam 1 Suro: Antara Momentum Hijrah dan Mitos Mistik Orang Jawa


138355089463669441

Tanggal 1 Muharram atau 1 Suro dalam tanggalan jawa diambil dari peristiwa hijrahnya kaum muslimin dari Kota Makkah ke Madinah. Sejak itulah agama Islam mengalami perkembangan amat pesat. Dalam kurun waktu yang relatif singkat yaitu kurang lebih 8 tahun Islam mulai bergema ke seluruh penjuru dunia, berkembang meluas ke seluruh pelosok permukaan bumi.
Momentum peristiwa hijrah dijadikan titik awal perkembangan Islam dan pembentukan masyarakat madani yang dibangun oleh Rasulullah SAW.  Dan karena itu tidak mengherankan jika Khalifah Umar bin Khotob menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan tahun baru Islam, yang kemudian dikenal dengan Tahun Baru Hijriah.
Disisi lain bulan Suro,
terutama pada malam tanggal 1 Suro di beberapa wilayah Indonesia memiliki aura tersendiri,  malam 1 Suro dianggap malam yang bernuansa mistis.
Oleh karena itu sebagian masyarakat yang mempercayai kemistisan tersebut melakukan berbagai ritual seperti  memandikan benda pusaka seperti keris dan lain-lain, dilarang keras melaksanakan pesta apalagi pernikahan, melaksanakan tirakat dengan begadang semalam suntuk, melakukan kirab malam 1 Suro, kirab Tumuruning Mahesa Suro, ritual Batara Kathong Ponorogo, ritual Telaga Ngebel Ponorogo, dan ritual lainnya.
Sebagian orang memahami bulan Suro sebagai bulan penuh kesialan, itulah yang menyebabkan pada bulan tersebut dilarang melakukan pesta khususnya pernikahan.
Hal ini adalah keyakinan yang tidak memiliki dasar karena bulan Suro atau bulan Muharram justru memiliki makna sebaliknya.  Bulan Muharram memiliki arti kegembiraan, dimana hal tersebut diartikan bahwa pada dasarnya bulan Muharram atau Suro adalah sebuah bulan yang mendatangkan kegembiraan bagi seluruh umat Islam.
Dalam persepsi Islam semua hari adalah baik dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada manusia.  Jika muncul mitos menyesatkan tentang bulan Suro, hal ini tidak lepas dari latar belakang sejarah jaman kerajaan tempo dulu.  Pada bulan Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual membersihkan pusaka keraton.
Ritual membersihkan pusaka keraton pada jaman dahulu menjadi sebuah tradisi yang menyenangkan bagi masrakyat yang masih haus akan hiburan. Sehingga dengan kekuatan kharisma keraton dibuatlah stigma tentang angkernya bulan Suro.
Sehingga jika di bulan Suro rakyat mengadakan hajatan khususnya pesta pernikahan, bisa mengakibatkan sepinya ritual yang diadakan keraton. Dampaknya akan mengurangi legitimasi dan kewibawaan keraton, yang pada saat itu merupakan sumber segala hukum.
Mitos tentang keangkeran bulan Suro ini demikian kuat dihembuskan, agar rakyat percaya dan tidak mengadakan kegiatan yang bisa menganggu acara keraton. Sayangnya mitos tersebut sampai saat ini masih demikian kuat dipegang oleh sebagian orang. Sehingga ada sekelompok orang yang pada bulan Suro tidak berani mengadakan sebuah aktivitas karena dianggap bisa membawa sial.
Biasanya tanggal 1 Suro adalah saat bulan purnama, dan bulan purnama penuh dengan nuansa misteri, mungkin ini juga merupakan hal yang dijadikan dasar kenapa malam 1 Suro memiliki kekuatan mistis.
Keyakinan seperti seperti itu merupakan keyakinan tanpa dasar dan hanya dilandasi pada kata orang tua dulu dan perintah leluhur tanpa bisa menunjukkan dalil secara agama maupun logika.
Bagi umat Islam seharusnya bulan Suro itu sama saja dengan hari-hari lainnya, tidak ada pantangan untuk melaksanakan perayaan apakah itu khitanan atau pernikahan.
Kita hendaknya meyakini kuasa Allah yang telah menjadikan semua hari, tanggal, bulan dan tahun adalah baik. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita berbuat dan bertindak, apakah sudah sesuai dengan ajaran agama, selama kita melakukan hal kebaikan maka Insya Allah kapanpun hal itu dilakukan maka akan memberi manfaat yang baik pula. [infonews]

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.

Leave a Reply